Contoh Perusahaan yang Menggunakan Big Data

[Total: 0    Average: 0/5]

Contoh Perusahaan yang Menggunakan Big Data

Banyak perusahaan menghadapi kendala dalam memanfaatkan data. Startup ini pun menawarkan solusi yang membuat setiap perusahaan bisa menjadi data driven company.

Data is the new oil. Kalimat tersebut sering digunakan untuk menggambarkan pentingnya data di era digitalisasi seperti saat ini. Dengan data, perusahaan memiliki pandangan yang lebih gamblang terhadap kondisi yang terjadi, sehingga bisa mengambil keputusan yang tepat. Semua perusahaan memiliki data, sehingga semua perusahaan sebenarnya berpotensi menjadi data driven company. Akan tetapi, tidak semua perusahaan memiliki kemampuan untuk mengolah data menjadi insight yang bermanfaat. Kebutuhan inilah yang coba dijawab Datanest, sebuah startup yang bergerak di bidang Data Science As A Service. Datanest menyediakan end-to-end solution untuk perusahaan dalam memanfaatkan dan melakukan monetisasi dari data yang mereka miliki. “Dengan Datanest, penerapan teknologi untuk analisis data suatu perusahaan dapat dilakukan lebih cepat, efektif, dan efsien,” tutur Manggala Damarsatya Ratulangie (CEO dan Co-Founder, Datanest). Lintas Segmen Manggala menyebut, Datanest didirikan untuk membantu perusahaan dari berbagai segmen untuk bisa memanfaatkan data. “Sebagai sebuah bisnis yang ingin maju, perusahaan memerlukan analisis data yang kuat,” tutur Manggala. Sayangnya kemampuan seperti itu saat ini hanya dimiliki perusahaan kelas enterprise. Perusahaan kecil dan menengah kerap menghadapi kendala di sisi dana, infrastruktur, hingga tenaga ahli untuk bisa memanfaatkan data ini. Sebagai solusi Data Science As A Service, Datanest membagi layanannya menjadi tiga, yakni Data Pool, Data Processing, dan Visualization. Data Pool digunakan untuk mengkoneksikan antar data point, membersihkan data, sampai melakukan enkripsi data untuk tujuan security. Layanan kedua adalah Data Processing untuk melakukan query, menerapkan algoritma machine learning, dan mengolah informasi yang kompleks.

Sementara Visualization berguna untuk menampilkan hasil olahan data dan melakukan action dari insight/informasi yang diperoleh, seperti pre-approve/reject dari sebuah aplikasi pinjaman, penentuan harga barang yang sama ke pembeli yang berbeda, jumlah stok barang yang harus dipesan dan lainnya. Untuk memanfaatkan semua solusi tersebut, Datanest menggunakan sistem paket. Di dalamnya sudah termasuk biaya dari infrastruktur, pembuatan model machine learning, maintenance dan retrain dari model tersebut. “Perusahaan cukup menyediakan data dan persoalan bisnis yang ingin diselesaikan, kemudian mesin kami akan memberikan jawabannya” jelas Manggala. Manggala menyakini solusi Datanest dibutuhkan banyak perusahaan di Indonesia. “Karena kami mengetahui membangun sebuah tim data tidaklah mudah dan memakan waktu, sedangkan kebutuhan bisnis akan analisis data sangat mendesak,” tutur Manggala.

Bukan Solusi Sesaat

Manggala menuturkan sejauh ini sudah ada lima perusahaan yang menjadi klien Datanest, dan sejumlah perusahaan lain dalam proses POC (Proof of Concept). Alumnus Universitas Bina Nusantara ini menyebut mayoritas dari perusahaan tersebut adalah Fintech dan Retail FMCG. “Namun ada juga beberapa permintaan dari industri lain seperti travel dan healthcare, sehingga kami mulai mempertimbangkan peluang yang ada” cetus Manggala. Manggala menyebut, model bisnis yang diterapkan Datanest menggunakan basis berlangganan dengan minimum durasi kontrak 1 tahun. Mengapa 1 tahun? Manggala beralasan model prediksi yang dibangun Datanest bukanlah solusi sesaat yang bisa langsung menyelesaikan masalah dalam sekejap. “Target kami adalah menyelesaikan masalah bisnis dari user secara menyeluruh, bukan hanya dalam waktu singkat kemudian masalah tersebut muncul kembali,” urai Manggala. Sejauh ini mayoritas pemasaran Datanest masih dilakukan secara generik, seperti melalui referensi, menjadi pembicara di berbagai acara, serta tergabung dengan akselerator (Plug and Play Indonesia). Melalui akselerator ini, Manggala menyebut pihaknya tidak hanya mendapatkan network yang kuat, namun juga pengetahuan dalam menjalankan startup bisnis ini. Layanan Datanest menurut Manggala tidak terbatas pada segmen perusahaan tertentu. Semua perusahaan yang memiliki data dan ingin memanfaatkannya dapat menjadi pengguna Datanest. Bahkan banyak dari klien Datanest yang awalnya merasa tidak memiliki data yang layak, namun setelah dianalisis ternyata memiliki data yang memadai.

Tantangan ke Depan

Dalam mendirikan Datanest, Manggala menggandeng rekannya Thibaud Plaquet yang memiliki latar belakang Master of Electrical and Computing Science. Keduanya bertemu dua tahun lalu, dan sempat mendirikan perusahaan big data retail analytic berbasis cloud sebelum mendirikan Datanest ini. Ketika ditanya mengenai tantangan membesarkan Datanest, Manggala menyebut masih banyak manajemen perusahaan yang belum memahami pentingnya data. “Jadi harus diedukasi terlebih dahulu” tambah Manggala. Tantangan lain adalah soal keamanan data. Di satu sisi, klien menginginkan analisis yang akurat, sementara itu di sisi lain merasa keberatan jika harus membuka datanya ke pihak ketiga. Datanest juga harus menghadapi skeptisme sebagai perusahaan baru dan lokal. Apalagi kebanyakan tools analisis yang ada sekarang adalah buatan luar. Namun setelah beberapa POC dan implementasi, Manggala menyebutkan banyak perusahaan yang mulai terbuka pikirannya. Saat ini Datanest memiliki tim berjumlah dua belas orang, yang didominasi developer dan data scientist. “Namun seiring perkembangan bisnis, kami mulai melakukan rekrutmen talent baru. Target kami hingga akhir tahun ini, tim kami mencapai kurang lebih dua puluh lima orang,” ujar Manggala. Manggala membeberkan dalam waktu dekat Datanest akan mengeluarkan produk baru yang bisa berguna untuk membantu industri fnance di Indonesia. “Rencananya jika tidak ada halangan, pilot product ini akan selesai akhir Juni ini dan kuartal ketiga 2018 kami akan launch produk ini ke publik secara keseluruhan,” imbuh Manggala. Meski masih tergolong perusahaan baru, namun pada Mei 2018 lalu, Datanest digadanggadang oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika sebagai salah satu startup yang berpeluang sebagai Nexicorn (Next Indonesia Unicorn). “Sebagai perusahaan yang belum genap berusia satu tahun tentu hal ini merupakan penghargaan sekaligus dorongan untuk tim kami dalam membangun Datanest,” pungkas Manggala.


Tags: perusahaan bdig, big data perusahaan, perusahaan yg menggunakan bif data, perusahaan yang menggunakan big data, keutungan dan kerugian big data, contoh penyelesaian masalah menggunakan big data, contoh penerapan big data pada perusahaan, contoh data perusahaan, contoh big data dalam perusahaan, solusi IT yang perlu diterapkan dalam sebuah perusahaan